Pages

Jumat, 20 Desember 2013

Seklumit SEJARAH ASWAJA NUsantara

RISALAH SEJARAH ULAMA ASWAJA NUSANTARA DAN DISTORSI YG DILAKUKAN KAUM WAHABI TERHADAPNYA(Part 1)



“....Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para rohaniawan non-Yahudi (*muslim) dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari faham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan…” (*Protokol zionis ke 17). 

Salah satu kejahatan Wahabi dan seluruh varian harokah yg berafiliasi serta menganut akidah yg sama dengannya diluar pentahrifan kitab kitab ulama klasik adalah memanipulasi sejarah ulama aswaja, khususnya ulama aswaja nusantara yg sangat dihormati oleh kalangan umat Islam berbasic tradisional.

Seperti yg ditulis baru baru ini di sebuah situs resmi harokah yg mengklaim bahwa KH. Wahab hasbullah salah seorang tokoh pendiri NU yg juga berperan dalam pendirian NKRI sebagai seorang yg mendukung sebuah konferensi yang memperjuangkan tegaknya kembali khilafah, dalam hal ini tentu saja khilafah versi pemahaman mereka, bukan versi pemahaman aswaja. (*silahkan di cek tulisan mengenai hal tersebut di http://hizbut-tahrir.or.id/2012/05/15/sejarah-umat-islam-indonesia-sejarah perjuangan-syariah-dan-khilafah/).

Sebelum itu telah kami temukan juga sebuah tulisan disebuah blog mengenai KH hasyim asy’ari yg di katakan panjang lebar sebagai ulama yg anti terhadap bedug dan perayaan maulid (*silahkan baca di http://axingx.blogspot.com/2012/07/kh-hasyim-asyary-tolak-beduk-maulid.html).

Selain itu mereka juga memanipulasi fakta sejarah polemik yg terjadi antara Syeikh Ahmad khatib al minangkabawi dan ulama ulama thariqat di ranah Minang di zamannya sebagai alibi untuk mengatakan beliau sebagai seorang ulama yg anti thariqat sufi dan pendukung gerakan pembaharuan islam ala wahabiyah Muhammad abduh.

Hal ini tentunya membuat kami sebagai generasi muda aswaja pemerhati sejarah bertanya tanya: Manufer apalagi yang dilakukan oleh kaum wahabi di Indonesia sekarang ini? Apakah setelah gagal atau paling tidak kurang berhasil memalingkan kaum muslimin dunia dan Indonesia pada khususnya dari akidah asy’ariyah-maturidiyah dan dari madzhab Imam yg empat dengan segala vonis sesat, bid’ah dan kafirnya lalu mereka sekarang melakukan ini?

Atau memang mereka sudah tidak percaya diri lagi mengusung nama ulama ulama wahabiyahnya yg selama ini selalu mereka jadikan sumber hujjah sehingga mereka berusaha membajak ulama ulama aswaja sebagai sumber hujjah baru mereka...???

Entahlah..., namun menurut pengamatan kami ketidak pedulian generasi muda Islam akan sejarah keislaman negerinya sendirilah yg membuat mereka menjadi sasaran empuk bagi kejahatan wahabi yg satu ini. Siapapun yg cenderung silau dengan apapun yg berbau timur tengah alias Arab sentris, lebih mengenal ulama ulama kholaf/mutakhir timur tengah wabil khusus yg mengusung sesuatu yg mereka sebut sebagai gerakan pembaharuan islam yg berpusat di Arab saudi sana, maka dialah mangsa yg tak perlu lagi diburu oleh para wahabi yg melakukan distorsi sejarah ini. Atau mereka yg bersemangat meneriakkan gerakan penegakan kembali khilafah, pemberlakuan syariah Islam yg salah kaprah dan basah kuyup dalam gegap gempita gerakan Pan islamisme radikal-fundamental yg berakar dari buah fikiran Muhammad abduh, Rasyid ridha, Hassan albana, Taqiyudin an-Nabhani, Sayyid Quthb dan sejenisnya maka pastilah juga yg menjadi mangsa empuk korban distorsi sejarah ini.

Kami tidak bicara omong kosong, coba lihat berapa banyak anak muda Islam yg aslinya berasal dari keluarga berbasic nahdiyin dan mungkin juga Pertiyin yg putar haluan menentang akidah dan amalan amalan orang tuanya sendiri setelah mengenal Islam dari sumber yg salah. Sumber sumber yg menampilkan wujud Islam yg tampak kemasan luarnya lebih nyunnah, yg semangatnya berapi api, gagah  dan mengobral syurga instant serta murah berbungkus kaleng berlabel jihad dunia maya yg merupakan produk import dari Saudi arabia, Mesir, Yaman, Qatar, Kuwait, Iran, Palestina, syuriah dan Jordania.

Produk produk import wahabisasi global yg berbumbu manis jargon kembali kepada Al Qur’an dan hadits sesuai pemahaman para salafus sholeh dengan dalil dalil yg shahih, shorih dan rojih.

Aaahaah...., siapakah yg tak akan mabuk kepayang lupa daratan yg dipijak, lupa air bumi mana yg diminum dan lupa udara mana yg setiap detiknya dihirup jika terkena slogan agama sedahsyat itu? Sedangkan yg dari kalangan Muhammadiyin lebih parah lagi karena sejarah Muhammadiyah memang telah mengalami distorsi sedemikian rupa secara sistematis semenjak berpuluh puluh tahun lalu. Mereka lebih mengenal tauhid trinitas ala wahabi yg tak berdasar dan bak martabak dibelah tiga itu ketimbang sifat 20.

Mereka malu mengakui kenyataan bahwa ibunya ikut pengajian aswaja, hobi maulidan, ratiban, dan tahlilan, atau si mbahnya ada yg berbaiat kepada thariqat thariqat sufi serta hobi tirakatan dan ngobong menyan. Mereka lebih mengenal pemikiran dan fatwa fatwa Syeikh Abdul aziz bin baaz dan sang muhadits nomer wahid Syeikh Albani ketimbang pemikiran Syeikh Muhammad sa'ad al khalidi mungka tuo atau KH. Hasyim asy’ari misalnya.

Dan kalaupun mereka mengenalnya maka sosok yg dikenal adalah sosok ulama aswaja yg telah didistorsikan oleh tangan tangan kreatif seperti di 2 buah link yg kami cantumkan diatas.

Lalu yg terjadi kemudian adalah klaim klaim sok tahu kalau mereka dalam aktifitas gerakan dakwahnya juga terpengaruh oleh pemikiran Yai Hasyim misalnya. Namun disaat bersamaan mereka memuja muja Syeikh Muhammad bin Abdul wahab sampai ke langit yg ketujuh...., oooooh muwahiddun..., entah kemana logika dan akal sehatmu kau campakkan? Masihkah dia ada bersemayam di dalam kepalamu saat ini seperti bersemayamnya Allah di atas arsy-Nya yg kau yakini sebagai akidah yg haq? Atau dia sudah kabur entah kemana.

Atau mungkin kesadaran historismu yg teramat sangat miskin itulah yg membuatmu begitu? Karena tidaklah mungkin seorang yg akalnya berfungsi dengan baik mengaku terpengaruh oleh 2 tokoh yg bahkan dalam masalah ushuludin saja bagai bumi dan langit bedanya, dimana yg satu menyelisihi yg lainnya.

Namun mereka ini sebenarnya adalah korban..., ya korban dari sebuah konspirasi manipulasi sejarah yg secara sistematis dilancarkan dari dalam tubuh Islam sendiri oleh Illuminati-Freemasonry serta agen agennya.

Karenanya, sebuah usaha pangkajian sejarah aswaja nusantara secara mendalam sangatlah diperlukan. Ketahuilah saudara saudara kami yg hobi klaim dan memanipulasi sejarah sana sini, tindakan kalian akan mendapat perlawanan yg sengit dari kami, sejarah tak bisa kalian putar balikkan seenak kepentingan kalian...

KEHEBATAN ULAMA-ULAMA ASWAJA NUSANTARA DI MASA LALU


Ulama ulama kita dahulu memang hebat hebat adanya. Mereka telah menjadi tokoh tokoh dunia dan mengharumkan serta melambungkan nama nusantara ke pentas dunia islam internasional. Nama-nama ulama seperti Syekh Yusuf Al- Makassary(Makassar) dan Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili (Singkel, Aceh), merupakan ulama yang malang melintang menuntut ilmu di Haramain pada abad ke-17. Syekh Abdul Shomad Al-Palimbani (Palembang), Syekh Nafis Al-Banjari (Banjar, Kalsel), Syekh Arsyad Al-Banjari (Banjar, Kalsel) merupakan ulama tasawuf thariqat Samaniyah yang berpengaruh pada abad ke-18.

Kita juga mengenal nama-nama seperti Syekh Nurudin Al-Raniri (Aceh), Syekh Abdul Rahman Al Masry Al Batawi (Jakarta), Syekh Khatib Sambas (Kalimantan), dan lain-lainnya.

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ulama kita malah makin hebat-hebat di Mekkah. Karena mereka tidak sekadar menuntut ilmu, tapi justru menembus pusat ilmu di Mekkah, yaitu sebagai pengajar dan imam di Masjidil Haram. Tercatat ada 2 nama ulama Indonesia yg menjadi Imam di mesjidil haram Mekkah, yaitu Syeikh Nawawi al bantani dan Syeikh Ahmad khatib al Minangkabawi.

Tersebut jualah syeikh Muhammad saad al khalidi mungka tuo yg telah melanglang buana menuntut ilmu sampai ke Mekkah, Madinah dan Yaman disaat bahkan penduduk Indonesia mungkin belumlah mengenal memakai celana apalagi yg berbahan dan bermodel pantalon. Atau mungkin sebagian dari kita juga akan asing mendengar nama KH. Kholil bangkalan, KH. Sholeh darat al Semarangi, Buya maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli Canduang, Buya H. Sirajuddin Abbas, Syekh Tuanku Shaliah Keramat dan Syeikh mahfudz al termasyi. Serta masih puluhan bahkan ratusan nama ulama ulama Indonesia yg hebat di masanya yg tidak mungkin kami sebutkan satu persatu disini..

Seluruh ulama pilih tanding nusantara yg kami sebutkan diatas adalah ulama berakidah asy’ariyah-maturidiyah dan bermadzhab syafi’iyah, madzhab yg lazim dianut oleh penduduk muslim nusantara semenjak dulu kala.

Tak satupun diantara mereka yg berakidah Mujasimah-musyabihah, dan berfaham ekstrim nyeleneh anti madzhab imam yg empat alias wahabiyah. Lebih jauh lagi seluruh mereka adalah para sufi, ulama ulama thariqat yg bertassawuf.

Sebuah kenyataan historis yg mencengangkan mengingat ulama ulama thariqat saat ini dikecam secara membabi buta dengan sebutan “kaum sufi yg tolol dan terbelakang” oleh orang-orang ahistoris tak tahu diri yg mengklaim diri mereka sebagai penegak tauhid.

Mereka buta akan fakta bahwa setelah era keemasan Walisongo di tanah Jawa dan ulama ulama besar di tanah sumatera serta melayu pada umumnya para ulama sufi yg tolol dan terbelakang itulah yg menjadi imam imam panutan tempat bertanya dan menuntut ilmu serta merenangi samudera  keilmuan islam yg nyaris tak terlihat bibir pantainya.

Dari tangan tangan mulia para ulama serta wali waliyullah inilah kemudian lahir ulama ulama seperti KH. Hasyim asy’ari, KH. Wahab hasbullah, KH. Ahmad dahlan dan lainnya yg kelak sangat berperan dalam membebaskan bangsa Indonesia pada umumnya dan umat islam nusantara pada khususnya dari belenggu penjajahan Belanda.

GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM MESIR DAN EFEKNYA PADA ULAMA-ULAMA INDONESIA SERTA POLEMIK ANTARA GOLONGAN TRADISIONAL SERTA MODERN YANG DIMANIPULASI OLEH WAHABI DIMASA KINI. 

Mereka para ulama yg kami sebutkan panjang pendek perihalnya diatas terkemuka di dalam dunia keilmuan Islam tak hanya di nusantara melainkan juga di dunia selama abad ke 18 dan paruh kedua abad ke 19 serta awal abad ke 20.

Hingga akhirnya hembusan gerakan pembaharuan islam bertiup dari Mesir, setelah beberapa waktu sebelumnya berhembus pula dari Najd. Namun anehnya sumber hembusan terdahsyat justru datang dari Perancis.

Ya, tersebutlah 3 tokoh disini: Jamaludin al afghani, Muhammad  abduh dan Rasyid ridha. Uniknya majalah Al manaryang merupakan corong propaganda ide ide pembaharuannya diterbitkan pertama kali saat mereka berada di Paris Perancis. Bukankah sebuah keanehan pembaharuan islam namun dihembuskan dari negeri kafir penjajah yg terang terang dikenal sebagai salah satu markas gerakan Freemasonry dunia...??

Sepintas lalu ide pembaharuan yg digagas mereka itu sangatlah luar biasa. Ide ide tentang modernisasi pendidikan islam, sosial dan politik tentunya tak dapat dipungkiri memang diperlukan oleh kaum muslimin di seluruh belahan dunia yg terjajah oleh bangsa bangsa barat saat itu. Tiba tiba saja Al manar menjadi konsumsi bacaan populer para pelajar Islam di Mekkah saat itu, tak terkecuali ulama ulama asal nusantara seperti KH. Ahmad dahlan dan KH. Hasyim asy'ari yg sedang belajar disana. Tak sedikit dari para pelajar itu lalu beramai ramai ke Mesir untuk bertemu dan kursus kilat gerakan tajdid (*pembaharuan) kepada Muhammad abduh dan muridnya Rasyid ridha.

Namun gerakan modernisasi Islam alias gerakan tajdid ini menyimpan racun yg justru sangat mematikan bagi umat Islam itu sendiri yaitu pelepasan diri dari kaidah bermadzhab kepada madzhab yg empat serta pemberangusan thariqat thariqat sufi bahkan yg mu’tabarah sekalipun.

Mereka juga menolak madzhab akidah asy’ariyah-maturidiyah yg telah berabad abad dikenal sebagai akidah ahlussunnah wal jam’ah. Bayangkan..., bukankah itu ibarat seekor kambing yg tak bisa mengaum namun ingin diakui sebagai singa bukan???

Selain itu mereka juga mengecam keras tradisi keislaman seperti maulid, perayaan isra mi’raj dan berziarah ke makam orang orang sholeh. Dan mereka sangat menekankan bahwa pintu ijtihad masih terbuka lebar dan siapapun bisa dan berhak melakukannya. Walhasil lahirlah mujtahid mujtahid gadungan yg kurang ilmu, kering hikmah, miskin khazanah, dan bahkan tanpa sanad  keilmuan yg jelas, sehingga fatwa fatwa yg dihasilkanpun bukan alang kepalang nyeleneh bin ngawurnya.

Semua orang asal bisa bahasa arab agak sejurus dua jurus, sepukul dua pukul maka dia bisa dan boleh berijtihad sekehendak hatinya tanpa harus memperhatikan ijma ulama terdahulu.

Kalau perlu silahkan saja menyalahkan pendapat mereka, shahihkan, dhoifkan, maudhu-kan, bahkan kafirkan muhadits sekelas Imam Bukhari dan imam Muslim jika hadits mereka tak sesuai dengan akidah wahabiyah yg merujuk kepada Syeikh ibnu taimiyah. Ini sama saja dengan membebaskan segerombolan anak paud mengurus keperluan hidupnya sendiri tanpa ada bekal yg cukup dan tanpa ada yg mengawasi.

Agama Islam itu bisa kau fahami dengan seenak nafsu dan akalmu... Do what you want, do what you wilts. Dari luar gerakan pembaharuan ini sangat mempesona dengan ide ide modernisasi Islam yg bertujuan mengangkat Islam dari keterbelakangan, namun isinya tak lebih dari gerakan wahabisme jilid dua.

Bahkan yg menarik adalah Muhammad abduh sendiri mengakui bahwa dia sangat terpengaruh pemikiran mu’tazilah alias Islam liberal, suatu faham Islam yg ditolak mentah mentah dengan reaksi yg sangat overacting oleh pengagum pengagumnya saat ini.

Kemu’tazilahan Abduh bukanlah sebuah rahasia lagi di dunia kajian sejarah faham wahabi dikalangan para ulama aswaja dan pemerhati masalah konspirasi saat ini. Bahkan seorang bernama David livingstone di dalam bukunya Illuminati and terrorism dengan tegas dan berani mengatakan Abduh, Ridha, dan Jamaludin al afghani sebagai agen-agen freemasonry yg ditanam di dalam tubuh islam.

PELURUSAN DISTORSI SEJARAH, FITNAH SERTA KLAIM WAHABI TERHADAP SYEIKH AHMAD KHATIB AL MINANGKABAWI, SERTA POLEMIKNYA DENGAN THARIQAT NAQSABANDIYAH DI MINANG KABAU. 


Gelombang gerakan pembaharuan ini ditanggapi dengan reaksi yg beragam oleh para pelajar dan ulama Indonesia saat itu baik yg belajar di Mekkah maupun tokoh tokoh pergerakan Islam yg berada di tanah air.
Golongan pertama adalah mereka yg cenderung menerimanya bulat bulat sebagai sesuatu yg mutlak dan sebagai sebuah keniscayaan, termasuk ide Abduh dan Ridha untuk meninggalkan taqlid kepada madzhab imam yg empat dan pemberangusan thariqat thariqat sufi.

Sedangkan golongan kedua adalah mereka yg  menerima dan menyerap gagasan pembaharuan Islam Abduh dalam bidang modernisasi pendidikan, sosial dan kesadaran politik, namun dengan tegas menolak mentah-mentah gagasan untuk keluar dari kaidah taqlid bermadzhab kepada Imam madzhab yg empat serta mengikuti dan mengamalkan tassawuf melalui thariqat thariqat sufi.

KH. Hasyim asy'ari dan KH. Ahmad dahlan termasuk kepada golongan yg kedua ini, sedangkan ulama seperti Syeikh Ahmad syurkati (*pendiri Al Irsyad) dan pimpinan organisasi pergerakan Islam seperti HOS. Tjokroaminoto termasuk kepada golongan yg kedua. Tentunya terjadi perdebatan, ketegangan dan tarik menarik diantara kedua golongan ini, namun diantara mereka tetap saling menghargai dan menghormati. Cita cita untuk mencapai Indonesia yg merdeka dari penjajahan bangsa kafir Belanda yg menjadi impian seluruh rakyat Indonesia saat itu membuat mereka mau tak mau harus duduk dan berjuang bersama.

Disinilah kaum wahabi hari ini melakukan distorsi-distorsi sejarah yg cukup signifikan. Mereka mengatakan bahwa Syeikh Ahmad khatib al Minangkabawi yg merupakan guru dari nyaris seluruh ulama Indonesia yg belajar di Mekkah saat itu sebagai seorang ulama yg anti tassawuf, anti thariqat dan anti kaum sufi, sejalan dengan Abduh dan Ridha. Ini tentunya cukup menggelikan, memang Syeikh Ahmad khatib pernah terlibat polemik permasalahan thariqat dan hukum adat yg berlaku di alam Minang kabau dengan ulama ulama dan kaum niniak mamak-cadiak pandai di ranah minang.

Memang beliau juga terlibat berbantah bantahan cukup panjang dengan ulama ulama thariqat Naqsabandiyah dan mengecam thariqat itu melalui kitabnya Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin (*artinya: "Menyatakan kebohongan orang orang yg menyerupai orang orang yg benar", terbitan 1906). Di kitab  yg membuat heboh urang awak di masanya tersebut beliau menyerupakan orang yg bersuluk dengan memakai rabithah (*Membayangkan wajah mursyid saat melafalkan dzikir pada prosesi suluk) sama dengan orang menyembah berhala.

Lebih lanjut beliau juga memfatwakan haramnya harta pusako serta hukum berwaris dari mamak (*paman) kepada kemenakan sebagaimana yg lazim berlaku dalam adat Minang. Kecaman ini telah dikupas habis oleh seorang ulama besar, pendekar Naqsyabandiyah, Syeikh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo (w. 1922) lewat kitab balasannya Irghamu Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabitathalwashilin (*artinya: "Meremukkan hidung penantang, yaitu mereka yang mengingkari Rabithah orang-orang yang telah sampai kepada Allah).

Polemik ini kemudian ramai dibicarakan oleh ulama ulama muda wabil khusus yg berasal dari Minang kabau yg tentunya mendukung Syeikh Ahmad khatib. Sikap mereka ini disinyalir akibat terpengaruh oleh bacaan mereka yaitu majalah Al manar yg diasuh oleh Muhammad abduh dan Rasyid ridha.

Perbantahan seputar masalah thariqat ini kemudian terus berlanjut, masing masing kedua ulama besar ini kemudian mengeluarkan satu kitab lagi untuk berargumentasi. Namun para ulama Minang dan seluruh Sumatera sepakat bahwa argumen dan dalil dalil dari Syeikh Muhammad sa'ad mungka yg didukung dengan ilmu alat yg lengkaplah yg jauh lebih kuat dan unggul ketimbang apa yg disampaikan oleh Mufthi Mekkah Syeikh Ahmad khatib.

Maulana Syekh Muda Wali al-Khalidi Naqsyabandi, ulama besar di Aceh, pernah menulis dalam kitabnya "Intan Permata" mengenai keputusan perdebatan Syekh Ahmad Khatib dengan Syekh Sa’ad Mungka bahwa dalil dalil yg dikemukakan syeikh ahmad khatib itu ibarat seekor harimau yg telah terpenggal lehernya oleh kitab tulisan Syeikh Muhammad saad mungka tuo.

Kelak di kemudian hari Syeikh Ahmad khatib dan Syeikh Muhammad sa'ad mungka tuo bertemu disebuah jamuan makan di Mekkah. Syeikh Ahmad khatib tercengang dan takjub dengan kerendahan hati, kezuhudan serta kefasihan dan kealiman Syeikh Muhammad sa'ad mungka tuo saat berbicara dengannya. Mereka berbincang bincang akrab, bahkan Syeikh Ahmad khatib yg adalah seorang mufthi saat itu mempersilahkan Syeikh Sa'ad duduk disebelahnya sbg tanda penghormatan. Nyata betul kalau perdebatan mereka jauh sekali dari perilaku takfir dan tabdi' seperti yg lazim ditulis para akademisi sejarah Islam berhaluan wahabi saat ini.

Jelas sekali kalau polemik mereka hanyalah sebatas keilmuan saja, selayaknya 2 raksasa intelekual Islam yg saling menguji sampai batas mana kefahaman mereka terhadap Al-qur'an dan hadits, tak lebih.

Hal itu, karena walau bagaimanapun mereka adalah sama sama ulama berakidah asy'ariyah-maturidiyah, sama sama bermadzhab Syafi'iyah dan bahkan lebih dari itu: sama sama mursyid thoriqoh. Ya..., Syeikh ahmad khatib al minangkabawi walau bagaimanapun keras argumennya tentang thariqat, namun beliau tetaplah seorang sufi belaka.

Beliau memang mempunyai pandangan pandangan khusus ttg thariqat, namun bukan seluruh thariqat yg dikritisinya atau bahkan dibantainya seperti yg dilakukan Abduh dan ridha, melainkan hanyalah thariqat Naqsabandiyah khalidiyah saja, dan itupun argumennya mentah dibasuh oleh Syeikh Muhammad sa'ad mungka tuo.

Terlebih dari itu bagaimanapun luasnya keilmuan beliau namun hingga akhir hayatnya tak sekalipun beliau berlepas diri dari madzhab Imam yg empat, dalam hal ini madzhab Syafi'iyah. Begitupula murid murid beliau baik yg berasal dari Minang maupun dari tanah Jawa, walaupun akrab dengan Al manar tapi mereka tetaplah berpegang teguh kepada tradisi bermadzhab dan mengikuti thariqat thariqat sufi.

PELURUSAN DISTORSI SEJARAH YANG DILAKUKAN OLEH WAHABI TERHADAP POLEMIK PEMBAHARUAN DI MINANGKABAU


Tersebut jualah seorang tokoh ulama besar Indonesia asal Sumatera barat/Minang kabau yg disebut sebut oleh kaum wahabi saat ini sebagai tokoh pembaharu pendukung dan pengadopsi gerakan tajdid Muhammad abduh dan Rasyid ridha serta mendukung gerakan pemurnian tauhid ala Wahabiyah. Beliau adalah Syeikh DR. Abdul Karim Amarullah (*ayah Buya Hamka) di ranah Minang.

Keduanya memang merupakan tokoh modernisasi Islam di Indonesia, dan memang pernah mengenal dan mengakrabi ide ide Abduh yg termaktub di dalam majalah Al manar.

DR. Abdul Karim amarullah atau yg lebih dikenal dengan Inyiak Rasul ini merupakan pendiri sekolah dan perkumpulan Sumatera Thawalib di Parabek Padang panjang serta orang yg pertama kali memperkenalkan perkumpulan Muhammadiyah di ranah Minang.

Bersama DR. Abdullah Ahmad Padang (*pendiri Adabiyah School) dan lainnya dia menerbitkan surat kabar untuk menyambung ide-ide pembaharuan itu di Padang, dengan nama “Majalah al-Munir” (senada dengan al-Manar di Mesir). Memang seperti halnya guru mereka Syeikh Ahmad khatib merekapun melakukan kritisi terhadap praktek thariqat wabil khusus thariqat naqsabandiyah khalidiyah yg lazim dianut kaum ulama tua di Minang kabau.

Hal ini menimbulkan polemik yg merupakan kepanjangan dari polemik thariqat antara Syeikh Ahmad khatib dan Syeikh Muhammad sa'ad mungka. Masing masing fihak mengemukakan pendapatnya. Fihak Sumatera Thawalib melalui majalah Al munir nya mengkritisi kejumudan kaum tua yg terlalu sibuk dengan urusan suluk dan beramal bathiniyah namun melupakan keadaan  sosial masyarakat yg terpuruk dibawah kaki penjajah Belanda saat itu.
Sebagai aksi nyatanya mereka mendirikan sekolah sekolah dinniyah dan madrasah modern yg pendidikannya mengkombinasikan pendidikan ala Islam dan barat sebagai anti tesis dari pendidikan Islam ala surau yg lazim berlaku di ranah Minang dan tanah melayu pada umumnya.

Dan ulama ulama tua Minangpun tak tinggal diam, puluhan kitab ditulis mereka untuk membantah tuduhan jumud dan kolot dari kaum muda tsb. Diantaranya Maulana Syeikh Sulaiman ar-Rasuli (w. 1970) yang mengarang berbagai risalah tentang Naqsyabandiyah, salah satunya yang terkemuka ialah Risalah Aqwalul Washithah fi Zikri wa Rabithah; kemudian Syeikh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syeikh Arifin Batu Hampar, kemudian Syeikh Abdul Wahid “Beliau Tabek Gadang” Payakumbuh.

Dan saat polemik tersebut semakin meruncing sampai ke ranah khilafiyah dan furuiyah fiqih maka para ulama kaum tua di Minang merespon gerakan pembaharuan kaum muda tsb dengan mendirikan PERTI atau Persatuan Tarbiyah Islamiyah pada tahun 1930, maka lengkaplah sudah babak polemik agama Islam antara kaum muda/modernis dan kaum tua/tradisionalis di ranah minang.

Namun seiring dengan waktu setelah masa pergolakan dan perang dingin antara kaum pembaharu muda dengan Sumatera Thawalib dan Muhammadiyahnya serta kaum tua dengan PERTI-nya tsb, mereka lalu hidup berdampingan dalam persaudaraan hingga hari ini. Sungguh ikatan persaudaraan mereka sebagai muslim dan ikatan emosional adat dan kekerabatan di alam Minang kabau tak memberi sedikitpun tempat bagi perilaku takfir dan tabdi' ala Wahabiyah.

Terlebih lagi semoderat apapun pemikiran DR. Abdul karim amarullah akibat pengaruh gerakan tajdid ala Abduh dan Ridha di Mesir dia tetaplah jua seorang ulama yg sangat kental corak dan latar belakang thariqatnya. Bahkan seperti halnya gurunya diapun adalah seorang sufi belaka jua.

Sang Inyiak Rasul ini adalah anak dari seorang ulama besar dan legendaris Minang kabau bernama Syeikh Amrullah Tuanku Kisa’i al-Khalidi Naqsyabandi ad-Danawi. Ayahnya tersebut yg lebih dikenal di kalangan masyarakat Minang saat itu dengan sebutan Tuanku Kisai ini adalah seorang ulama pewaris kaum paderi dan seorang mursyid thariqat Naqsabandiyah khalidiyah dan beberapa thariqat lainnya. Dari ayahandanya inilah Inyiak Rasul mendapatkan ijazah thariqat Alawiyah dan Haddadiyah.

Begitupula dengan DR. Abdullah ahmad Padang dan Syeikh Muhammad Jalil jambek serta ulama ulama Minang pengusung modernisme lainnya juga adalah orang orang yg berlatar belakang thariqat belaka adanya.
Dan perlu juga kami tuturkan disini bahwa tak sedikit pula murid dari Syeikh Ahmad khatib al minangkabawi yg justru malah menjadi ulama ulama thariqat Naqsabandiyah dan cenderung berdiri di sisi kaum tua.

Jadi di Minang kabau tak ada itu gerakan tajdid membabi buta ala Abduh dan Ridha di Mesir yg secara serampangan memberangus thariqat thariqat sufi dengan menggunakan kekuasaan Abduh sebagai seorang mufthi. Tak ada pula itu obral tabdi' apalagi takfir dan tindakan penghalalan darah sesama muslim sebagaimana layaknya corak kelam dan menjijikkan yg mewarnai sejarah gerakan wahabi dimanapun dia berada.

Perdebatan boleh bergemuruh laksana guruh di dalam topan badai, argumen dan dalil boleh diumbar selebar dan sepanjang jalan berkelok ampek puluah ampek nan mahsyur itu, namun hanya sebatas kajian keilmuan saja, tiadalah lebih.

Modernisasi tak pelak memang perlu dilakukan sebagai keniscayaan tuntutan zaman, namun bukan berarti menjadi alibi dan legitimasi untuk mendobrak tatanan kaidah agama yg telah ijma' selama nyaris 1000 tahun lebih seperti tradisi dan kaidah bermadzhab.

Inilah yg sangat disadari oleh kaum muda pembaharu di Minang kabau, mereka mengganti yg usang dengan yg baru sesuai tuntutan zaman tanpa harus membuang seluruhnya. Mana yg baik dan bisa dipakai maka tetaplah dipertahankan karena merenovasi sebuah rumah bukanlah dengan cara meruntuhkan pondasi rumah tersebut dengan dinamit, sungguh hanya orang kurang akal dan telah pesong otaknya saja yg melakukan hal itu.

Tapi walaupun demikian adanya, tiadalah dapat dipungkiri kalau angin gelombang pembaharuan ini berperan tidaklah sedikit dalam memudarkan tradisi belajar agama di surau yg lazim berlaku di ranah minang.

Lengang sudah surau surau tempat anak nagari mempelajari ilmu agama, mengkaji kitab kitab kuning ulama ulama terdahulu, mengenal adat nan basandi syara' dan basandi kitabullah, serta menyelami dan meniti jenjang syariat, hakikat dan ma'rifat menuju sosok insan kamil.

Zaman kini telah berganti, gamis dan sarung, saluak, kopiah serta imamah telah berganti dengan kemeja, celana pentalon serta setelan jas ala Eropa. Ilmu alat seperti nahwu, shorof, balaghoh, ma'ani, bayan, mantiq dan ushul telah tergantikan dengan pelajaran agama bermetode barat yg serba modern dan menggunakan huruf latin. Tradisi "lalok di surau" (*menginap di mesjid/mushola) selepas mengaji dan sholat Isya telah lenyap sudah menjadi cerita masa lalu bagi generasi muda nan lugu dan tak tahu asa barasa carito cadiak pandai urang awak.
Dan akibatnya semakin sedikit yg bisa membaca kitab kitab tulisan hasil buah fikiran dan manisnya lautan madu ilmu ulama ulama angku nan tuo. Kitab itu kini semakin habis dimakan usia, seiring habis dan terangkatnya kejayaan dan keemasan serta harum mewanginya ranah minang sebagai salah satu gudangnya ulama, sastrawan serta kaum cerdik pandai di nusantara. Inikah yg dinamakan pembaharuan yg gegap gempita bergaung suaranya dari Mesir hingga ke pojok pojok kampung yg orang orangnya bahkan tak tahu ada negeri lain di dunia ini selain nagari nan diapik gunung  singgalang dan danau maninjau....?? Tajdid...., oooooh.... Tajdid...

DR. Abdul karim amarullah dan seluruh ulama pembaharu di ranah Minang hingga akhir hayatnya tetaplah berpegang teguh kepada madzhab akidah asy'ariyah-maturidiyah, madzhab fiqih Syafi'iyah dan berthariqat dengan thariqat thariqat yg mu'tabarah.

Tak sejengkalpun mereka melepaskan diri dari taqlid kepada madzhab Imam Syafi'i sebagaimana yg diserukan Abduh dan Ridha. Beliau tetaplah mengikuti jejak ayahandanya Tuanku Kisai, gurunya Syeikh Ahmad khatib al minangkabawi dan ulama ulama terdahulu dalam hal kaidah tradisi bermadzhab kepada salah satu madzhab yg empat, dalam hal ini madzhab Syafi'iyah.

Tiadalah beliau mengenal apalagi menganut tauhid yg dibagi tiga laksana membelah martabak yg dibeli di pinggir jalan itu, tak ada itu Uluhiyah, Rubbubiyah dan Asma wa shifat dalam kamus dalil Inyiak Rasul.

Maka dengan itu klaim murahan kaum Wahabi bahwa para pembaharu di Minang adalah kaum wahabiyah adalah kebohongan belaka. Sebuah usaha pendistorsian sejarah yg sangat licik dan menjijikkan serta dengan mudah dapat ditelanjangi di siang hari bolong di tengah ramainya orang di balai.

Coba fikir..., seorang wahabi macam apa yg berbaiat kepada 2 thariqat sekaligus seperti beliau? Wahabi macam apa pula yg tetap berpegang teguh dan taqlid kepada Imam Syafi'i...? Bahkan putera beliau yaitu Buya Hamka yg tak luput jua dari distorsi sejarah dan klaim para wahabi bahwa beliau berfaham tauhid ala Najd itupun sejatinya juga adalah seorang Asy'ariyah-Syafi'iyah.

Walaupun dalam beberapa masalah beliau cukup moderat toh menjelang akhir hayatnya Buya Hamka akhirnya berbaiat kepada KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin atau lebih dikenal dengan Abah Anom dari pesantren Suryalaya dibawah thariqat Qodiriyah Naqsabandiyah.

Terlebih lagi beliau juga menulis sebuah buku tentang tassawuf berjudul "Tassawuf modern", patahlah sudah klaim kaum wahabi terhadap beliau laksana kayu lapuk yg telah usang dimakan rayap.

Dan jika klaim serta distorsi yg mereka lakukan terhadap kaum pembaharu di era modern masih kurang maka mereka kemudian melakukan hal yg sama liciknya kepada figur ulama ranah Minang yg jauh lebih tua lagi. Tuanku Imam bonjol, Tuanku nan renceh dan kaum Paderi di Minang diklaim juga oleh mereka sebagai ulama yg berfaham Wahabiyah.

Hal ini tentunya jauh lebih menggelikan bagi kami karena klaim ini teramat sangatlah lebih mentah dari klaim mereka terhadap kaum muda pembaharu di era modern. Hal tersebut karena Tuanku Imam bonjol, Tuanku nan renceh dan seluruh ulama paderi yg mahsyur dengan sebutan "Harimau nan salapan" itu adalah murid dan salik dari Tuanku nan tuo di koto tuo, seorang ulama tua dan mursyid thariqat Syattariyah.

Dengan demikian terlepas dari keradikalan mereka dalam menegakkan syari'at Islam di ranah minang dan menghadapi kaum adat pada masanya, Tuanku Imam bonjol dan kaum paderi lainnya tak lain tak bukan adalah kaum sufi jualah kiranya.

Mau tak mau lagi lagi kami harus bertanya: Wahabi macam apa pulakah yg berthariqat Syattariah? Wahabi manakah yg dikepalanya melingkar lilitan imamah seperti kaum paderi?

Kami rasa tak satupun wahabi yg bisa menjawabnya. Sungguh cahaya kebenaran itu memang lebih terang dari sinar mentari bagi orang orang yg mengetahuinya, bagi yg tak pernah berhenti manggalinya dan bagi yg diberi petunjuk oleh Allah SWT.

logo BANOM NU





SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA JAMIYAH NAHDLATUL ULAMA'

SEJARAH NU Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku “NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam”, melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya.
Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut , masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.

Keresahan Kiai Hasyim

Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.
Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.
Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.

Tongkat “Musa”

“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Setelah membeerikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.
Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”
Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.
Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.
Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.
Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.
Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.
Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.
Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.
Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.
Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).
Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.
Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie jug a meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.

Bapak Spiritual

Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU yaitu sebgai penentu berdirinya, sebenarnya masih ada satu peran lagi, peran penting lain yang telah dimainkan oleh Kiai Cholil Bangkalan. Yaitu peran sebagai bapak spiritual bagi warga NU. Dalam tinjauan Mujammil Qomar, Kiai Cholil layak disebut sebagai bapak spiritual NU karena ulama asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama).
Dalam ketiga masalah itu, kalangan NU berkiblat kepada Kiai Cholil Bangkalan karena ia dianggap berhasil dalam menggabungkan kecenderungan fikih dan tarekat dlam dirinya dalam sebuah keseimbangan yang tidak meremehkan kedudukan fikih. Penggabungan dua aspek fikih dan tarekat itu pula yang secara cemerlang berhasil ia padukan dalam mendidik santri-santrinya. Selain membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu lahir (eksoterik) yang sangat ketat –santrinya tak boleh boyong sebelum hafal 1000 bait nadzam Alfiah Ibn Malik, ia juga menggembleng para santrinya dengan ilmu-ilmu batin (esoterik).
Kecenderungan yang demikian itu bukannya tidak dimiliki oleh pendiri NU lainnya. Tokoh lainnya seperti Kiai Hasyim, memiliki otoritas yang sangat tinggi dalam bidang pengajaran kitab hadits shahih Bukhari, namun memiliki pandangan yang kritis terhadap masalah tarekat, konsep kewalian dan haul. Kiai Hasyim merupakan murid kesayangan dari Syaikh Mahfuzh at Tarmisi. Syaikh Mahfuzh adalah ulama Indonesia pertama yang mengajarkan kitab hadits Shahih Bukhari di Mekkah. Syaikh Mahfuzh diakui sebagai seorang mata rantai (isnad) yang sah dalam transmisi intelektual pengajaran kitab Shahih Bukhari.
Karena itu, Syaikh Mahfuzh berhak memberikan ijazah kepada murid-muridnya yang berhasil menguasai kitab Shahih Bukhari. Salah seorang muridnya yang mendapat ijazah mengajar Shahih Bukhari adalah Kiai Hasyim Asy’ari. Otoritas Kiai Hasyim pada pengajaran kitab hadits Shahih Bukhari ini diakui pula oleh Kiai Cholil Bangkalan. Di usia senjanya, gurunya itu sering nyantri pasaran (mengaji selama bulan puasa) kepada Kiai Hasyim. Ini merupakan isyarat pengakuan Kiai Cholil terhadap derajat keilmuan dan integritas Kiai Hasyim.
Sebagai ulama yang otoritatif dalam bidang hadits, Kiai Hasyim memiliki pandangan yang kritis terhadap perkembangan aliran-aliran tarekat yang tidak memiliki dasar ilmu hadits. Ia menyesalkan timbulnya gejala-gejala penyimpangan tarekat dan syariat di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, ia menulis kitab al Durar al Muntasyirah fi Masail al Tis’a’Asyarah yang berisi petunjuk praktis agar umat Islam berhati-hati apabila hendak memasuki dunia tarekat.
Selain kritis dalam memandang tarekat, Kiai Hasyim juga kritis dalam memandang kecenderungan kaum Muslim yang dengan mudah menyatakan kewalian seseorang tanpa ukuran yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis. Terhadap masalah ini, Kiai Hasyim memberikan pernyataan tegas:
“Barangsiapa mengaku dirinya sebagai wali tetapi tanpa kesaksian mengikuti syariat Rasulullah SAW, orang tersebut adalah pendusta yang membuat perkara tentang Allah SWT.”
Lebih tegas beliau menyatakan:
“Orang yang mengaku dirinya wali Allah SWT, orang tersebut bukanlah wali yang sesungguhnya melainkan hanya wali-walian yang jelas salah sebab dia mengatakan sir al-khushusiyyah (rahasia-rahasia khusus) dan dia membuat kedustaan atas Allah Ta’ala.”
Demikian pula terhadap masalah haul. Selain Kiai Hasyim, para pendiri NU lainnya seperti Kiai Wahab dan Kiai Bisri Syansuri juga bersikap kritis terhadap konsep haul dan mereka menolak untuk di-haul-i (Qomar, 2002). Akan tetapi di kalangan NU sendiri, acara haul telah menjadi tradisi yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Para wali atau kiai yang meninggal dunia, setiap tahunnya oleh warga nahdliyih akan di-haul-i dengan serangkaian kegiatan seperti ziarah kubur, tahlil dan ceramah agama untuk mengenang perjuangan mereka agar dapat dijadikan teladan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Mengapa masalah tarekat, konsep kewalian dan haul yang mendapat kritikan pedas dari Kiai Hasyim tersebut, justru ditradisikan di kalangan NU? Apakah warga NU sudah tidak lagi mengindahkan peringatan Kiai Hasyim? Untuk memastikan jawabannya, menurut Mujammil Qomar, agak sulit, mengingat NU bisa berkembang pesat juga karena usaha dan pengaruh Kiai Hasyim.
Wallahu a’lam.
Penulis:
Moh. Syaiful Bakhri
Penulis buku “Syaikhona Cholil Bangkalan: Ulama Legendaris dari Madura” dan sekretaris Lajnah Ta’lif Wan Nasr NU Kabupaten Pasuruan. Pemuatan artikel ini juga merupakan penghormatan dan dukungan moril kepada PCNU Kab. Pasuruan yang berusaha mendorong terciptanya masyarakat yang maju, sejahtera dan berakhlakul karimah dengan menerbitkan buletin dua bulanan. Semoga usaha penerbitan ini bisa istiqamah.





Nomor             : 001/PAN.TFNMC/7354-7455/XII/2013
Lampiran         : 1 bendel
Perihal             : Pemberitahuan  
                       

Kepada  Yth:
1.      Pimpinan Ranting IPNU – IPPNU Se- Kecamatan Sugio
2.      Pimpinan Komisariat IPNU – IPPNU Se- Kecamatan Sugio
3.      Pengurus Remaja Masjid NU Se- Kecamatan Sugio
Di_

          Tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb. 
          Salam Silaturrahim kami sampaikan semoga kita selalu mendapat rahmat dari Allah SWT,sehingga dapat menjalankan amanat organisasi.
Dengan berakhirnya masa Khitmad 2011 - 2013 Pimpinan Anak Cabang IPNU – IPPNU kecamatan Sugio akan mengadakan serangkaian kegiatan yang terangkum dan dikemas dalam kegiatan Pra Konferensi Pimpinan  Anak Cabang IPNU – IPPNU Kecamatan Sugio salah satunya kegiatan Tournament Futsal Nahdliyin Cup 2013 yang  insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari                 : Ahad
Tanggal            : 29 Desember 2013
Tempat             : Lapangan Futsal Sugio Sport Center  
Sehubungan dengan itu, kami panitia Pra KONFRENSI PAC. IPNU IPPNU Sugio bermaksud memohon keikutsertaan Pimpinan Ranting, Pimpinan Komisariat dan Remaja Masjid NU Se- Kec. Sugio dalam kegiatan tersebut.
Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasinya disampaikan terima kasih.
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thoriq
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

             Sugio, 06 Desember 2013

Panitia Pra Konferancab
Ketua



HERI IRAWAN
Sekretaris



M. AMIN ZAMZAH

Mengetahui,
Ketua IPNU



RICKI FADLI
Ketua IPPNU



ALIFATIN YUFICHA. FEBRIANA


Contac Person: Ricky Fadli 085655045264,  Heri Setiawan 085645318590,  Basirul Khamit 085706518289,

           Arwani Amin 085749856056
PAC. IPNU - IPPNU SUGIO




Bangkitlah kader – kader muda Nahdliyin untuk meneruskan perjuangan Nahdlatul Ulama



Syarat Dan Ketentuan Peserta Tournamen Futsal Nahdliyin Cup 2013
Pra konferensi Anak Cabang IPNU – IPPNU Kec. Sugio


I.     Ketentuan Umum

ü  Peserta adalah pemuda / pelajar warga Nahdlatul Ulama    
ü  Peserta atau Tim Wajib mengisi surat struktur kepengurusan ranting IPNU – IPPNU sesuai desa dan sekolahnya masing – masing yg telah di sediakan oleh panitia.
ü  Peserta  atau tim wajib mendapatkan surat rekomentasi dari Ranting NU yg telah di sediakan oleh panitia.
ü  Peserta  atau tim wajib mendapatkan surat rekomentasi dari Kepala Sekolah yg telah di sediakan oleh panitia.
ü  Peserta  atau tim berusia maksimal 20 Tahun yang dibutktikan dengan Foto Kopi KTP/
Kartu Pelajr/ Akte Kelahiran.
ü  Peserta  atau tim wajib membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 50,000

II.  Ketentuan Khusus

-          Di Bahas Dalam Teknikal Meting Pada Tanggal 22 Desember 2013 Yg Di Ikuti Oleh Seluruh Pimpinan Ranting, Pimpinan Komisariat Dan Remaja Masjid Se- Kecamatan Sugio.

-          Dan Mengambil Nomor Undian Masing – Masing Tim.

-          Undangan menyusul..
  
IPNU 3TIM FORMATUR
P I M P I N A N   R A N T I N G
IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA
...................... – SUGIO – LAMONGAN
 

Sekretariat :                                                                                                                                                    
SUSUNAN PENGURUS
PIMPINAN RANTING IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA
DESA .................................
MASA KHIDMAT 2013 - 2015

Pelindung                    : Pimpinan Ranting NU  .................
Pembina                      : 1. ........................................
  2. ........................................
Pengurus Harian
Ketua                          : ......................................
Wakil Ketua                : ......................................                   
Sekretaris                    : ......................................       
Wakil Sekretaris          : ......................................       
Bendahara                   :  ......................................
Wakil Bendahara        :  ......................................      

Departemen – Departemen

1.Departemen Pembinaan dan Pengembangan Kader
            Koordinator    : ......................................                   
            Anggota          : ......................................                   
II. Departemen Pembinaan dan Pengembangan Organisasi
            Koordinato      : ......................................       
            Anggota          : ......................................                               
                                                                       
V. Departemen Pengembangan Seni dan Budaya
            Koordinato      : ......................................       
            Anggota          : ......................................
VI. Departemen Hubungan Masyarakat
            Koordinato      : ......................................                               
            Anggota          : ......................................
                                                           
                                                                                                ………, …………

TIM FORMATUR
PENGURUS
PR. IPNU ......................................

Ketua



DIDIK SETYONO
Sekretaris



M. NUR KHOIRI
                                                                                                 

IPPNU 2TIM FORMATUR
P I M P I N A N   R A N T I N G
IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA
................. – SUGIO – LAMONGAN

 

Sekretariat :                                                                                                                                                    

SUSUNAN PENGURUS
P. R.  IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLAT`UL ULAMA DESA …………….
MASA KHIDMAT 2013 - 2015

Pelindung                    : Pimpinan Ranting NU .....................
Pembina                      : 1. ...............................
  2. ...............................
Pengurus Harian
Ketua                          : ..................   
Wakil Ketua                : .................                
Sekretaris                    : ...............      
Wakil Sekretaris          : ..............                   
Bendahara                   :  ..............                  
Wakil Bendahara        :  ...............                 

Departemen – Departemen

1.Departemen Pembinaan dan Pengembangan Kader
            Koordinator    :                      
            Anggota          :                      
II. Departemen Pembinaan dan Pengembangan Organisasi
            Koordinator    :          
            Anggota          :                                                                                  
V. Departemen Pengembangan Seni dan Budaya
            Koordinator    :          
            Anggota          :
VI. Departemen Hubungan Masyarakat
            Koordinator    :                                  
            Anggota          :          
                                                           
                                                                        ………, …………

TIM FORMATUR
PENGURUS
PR. IPPNU …………

Ketua



EVI LUPITA SARI
Sekretaris



EMY NATUN NA’IMAH


NU-LogoPIMPINAN RANTING
N A H D L A T U L    U L A M A
.........................- SUGIO – LAMONGAN

 

Sekretariat :                                                                                                                                        


SURAT REKOMENDASI
Nomor : PRNU/0..../A-6/      /2013


Yang Bertanda tangan di bawah ini :

Nama                                     : ....................................
Alamat                                    : Desa ............................. Kecamatan SUGIO Kabupaten Lamongan
Jabatan                                  : Ketua Ranting NU Desa .......................................

Dengan ini memberi Rekomendasi kepada :
Susunan Pengurus Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajara Putri Nahdlatul Ulama’ Desa ......................................  Masa Khidmat 2013 - 2015

Demikian Surat rekomendasi ini dibuat sebagai bahan syarat mengikuti Tournamet Futsal Nahdliyin Cup 2013 Se- Kecamatan Sugio dan untuk mendapat surat pengesahan dari PC IPNU-IPPNU Kabupaten Lamongan. Mohon kepada PC IPNU-IPPNU Lamongan segera menerbitkan Surat Pengesahan.

Ditetapkan di  ............................


Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama
Desa ...................................

Ketua



........................................



MA'ARIF2LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF NU
...................................................-SUGIO
Alamat : ...................................................Kec. Sugio Kab. Lamongan

 


SURAT REKOMENDASI
Nomor : ...../..../../.../  /2013


Yang Bertanda tangan di bawah ini :

Nama                                     :
Alamat                                    :
Jabatan                                  :

Dengan ini memberi Rekomendasi kepada :

Susunan Pengurus Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajara Putri Nahdlatul Ulama’ ............................ Masa Khidmat 2013-2014.

Demikian Surat rekomendasi ini dibuat sebagai Bahan Syarat mengikuti Tournamet Futsal Nahdliyin Cup 2013 dan untuk mendapat surat pengesahan dari PC IPNU-IPPNU Kabupaten Lamongan. Mohon kepada PC IPNU-IPPNU Lamongan segera menerbitkan Surat Pengesahan.

Ditetapkan di ...................


Kepala Sekolah ......................................




..........................................


IPNU 3TIM FORMATUR
P I M P I N A N   K O M I S R I A T
IKATAN PELAJAR NAHDLATU ULAMA
..................................................

 

 Sekretariat :                                                                                                                           

SUSUNAN PENGURUS
PIMPINAN KOMISARIAT IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA
........................................................................
MASA KHIDMAT 2012 - 2013

Pelindung                    :
Pembina                      : 1.
  2.
Pengurus Harian
Ketua                          :
Wakil Ketua                :                      
Sekretaris                    :          
Wakil Sekretaris          :          
Bendahara                   :
Wakil Bendahara        :          

Departemen – Departemen

1.Departemen Pembinaan dan Pengembangan Kader
            Koordinator    :                      
            Anggota          :                      
II. Departemen Pembinaan dan Pengembangan Organisasi
            Koordinator    :          
            Anggota          :                                  
                                                                       
V. Departemen Pengembangan Seni dan Budaya
            Koordinator    :          
            Anggota          :
VI. Departemen Hubungan Masyarakat
            Koordinator    :                                  
            Anggota          :          
                                                           
                                                                                                ………, …………

TIM FORMATUR
PENGURUS
KOMISARIAT IPNU ..........................

Ketua



DIDIK SETYONO
Sekretaris



M. NUR KHOIRI



IPPNU 2TIM FORMATUR
P I M P I N A N   KOMISARIAT
IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA
.....................................

 

Sekretariat :                                                                                                                                                    
SUSUNAN PENGURUS
PIMPINAN KOMISARIAT IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA
........................................................................
MASA KHIDMAT 2012 - 2013

Pelindung                    : ..................................
Pembina                      : 1. ...............................
  2. ...............................
Pengurus Harian
Ketua                          : ..................   
Wakil Ketua                : .................                
Sekretaris                    : ...............      
Wakil Sekretaris          : ..............                   
Bendahara                   :  ..............                  
Wakil Bendahara        :  ...............                 

Departemen – Departemen

1.Departemen Pembinaan dan Pengembangan Kader
            Koordinator    :                      
            Anggota          :                      
II. Departemen Pembinaan dan Pengembangan Organisasi
            Koordinator    :          
            Anggota          :                                  
                                                                       
V. Departemen Pengembangan Seni dan Budaya
            Koordinator    :          
            Anggota          :
VI. Departemen Hubungan Masyarakat
            Koordinator    :                                  
            Anggota          :          
                                                           
                                                                                                ………, …………

TIM FORMATUR
PENGURUS
PK. IPPNU ………….…

Ketua



EVI LUPITA SARI
Sekretaris



EMY NATUN NA’IMAH



DAFTAR PEMAIN FUTSAL



NO
NAMA PEMAIN
TTL
NO HP
KETERANGAN
1




2




3




4




5




6




7




8




9




10







OFICIAL TIM

1. …………………………….
2. …………………………….
3. …………………………….