Pages

Kamis, 19 Desember 2013


AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH (ASWAJA)
(RANAH GERAKAN IPNU-IPPNU)
A.  Pengertian Aswaja
1. Secara Bahasa
Kata Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terdiri dari beberapa kata yang masing-masing secara bahasa mempunyai arti sendiri-sendiri, yaitu :
a. Ahlu (n) yang berarti : kaum, keluarga atau golongan
b. As Sunnah yang berarti :
1) Ucapan Nabi Muhammad Saw
2) Tingkah laku, kebiasaan atau perbuatan Nabi Muhammad Saw.
3) Persetujuan atau sikap Nabi Muhammad Saw. Mendiamkan ucapan atau tingkah laku seseorang pada zaman Nabi Muhammad Saw.
c. Wa, merupakan perabot ngatof (kata sambung) yang berarti “dan”. Kata sambung wa menunjukan bahwa kedua hal yang disebut sebelum dan sesudahnya adalah sama, meskipun tidak sederajat. Karena mempunyai faidah “Mutlaqul jam’i” (mencangkup keseluruhan).
d. Al Jama’ah, yang berarti kumpulan atau kelompok. Dikandung maksud adalah kelompok para sahabat Nabi. Sedang yang dimaksud sahabat adalah mareka yang yang beriman kepada Nabi Muhammas Saw dan hidup sezaman atau pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw.

Para sahabat terutama sahabat-sahabat terkemuka. Mereka adalah orang-orang yang paling dekat dan selalu bersama Nabi Muhammad Saw. Mereka bukan saja membaca atau mendengarkan sesuatu hadits, tetapi juga menghayati apa-apa yang tersirat pada hadits.. Karena mereka para sahabat yang dekat dengan Nabi maka mereka :
1) Mengetahui sebab musabab timbulnya hadits (asbabul wurudul hadits)
2) Mengetahui situasi pada saat timbulnya suatu hadits
3) Mengetahui hubungan suatu hadits dengan hadits yang lain, dengan ayat al-Qur’an dengan kebiasaan/tingkah laku Nabi Muhammad Saw dalm kehidupan sehari-hari.

2. Secara Istilah
Uraian diatas dapat memberikan gambaran jelas kepada kita bahwa secara istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah golongan yang berusaha selalu berada pada garis ajaran Nabi Muhammad Saw dan para sahabat terkemuka Nabi Muhammad Saw. Dengan berpedoman pada tiga sumber hukum Islam yaitu : al-Qur’an, Hadits dan Akal (yang melahirkan Ijma’ dan Qias) dengan menggunakan metode Ijtihad, terutama adalah khulafaurrasyidin,  

B. Sejarah Aswaja
Pada prinsipnya paham Aswaja mengalami dua periode waktu, yaitu :

1. Periode Nabi Muhammad Saw Masih Hidup
Ada sebuah satu hadits yang artinya :
“Dari Mu’awiyah dari Rosululloh Saw bersabda : “Umat yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, dan umat Nasrani telah terpecah menjadi 72 golongan. Dan sungguh ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Yang selamat dari 73 golongan tersebut adalah satu. Sedang sisanya celaka. Dikatakan (kepada Nabi” : Siapakah golongan yang selamat itu ? …” Beliau bersabda “ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” Dikatakan : “ Apakah As Sunnah dan Al Jama’ah itu ?…” beliau bersabda : “Apa yang aku berada diatasnya sekarang bersama para sahabatku”. (Tersebut dalam kitab “Al-Qaulul Muasaddat Fidz Fidz DZabbi ‘an Musnadi Ahmad” Karya Imam Ibnu Hajar Al-Hafidz).
Istilah Aswaja telah ada semenjak Nabi Muhammad Saw masih hidup. Hanya waktu itu belum memunculkan permasalahan “Aswaja itu yang seperti apa ? ..” Karena setiap kali ada permasalahan selalu dikembalikan kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan begitu tidak ada permasalahan yang menuju pada perpecahan ummat. Baik yang disebabkan oleh perbedaan syari’at ibadah maupun perebutan kekuasaan. Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw baik ucapan, perbuatan, sikap dan kebiasaan beliau itulah Aswaja.
2. Periode Sesudah Nabi Muhammad Saw Wafat

a) Periode Abu Bakar As-Sidiq
Ketika Nabi Muhammad Saw. Wafat mulailah muncul beberapa paham yang berbeda dengan syariat Nabi Muhammad Saw, yaitu :
1) Munculnya Nabi Palsu yang di prakarsai oleh Abdullah bin Ubai bin Salul yang sering disebut Bin Salul, Musailamah dari bani Hanifah di Yamamah, Al-Aswad Al Ansi dari Yaman dll. Padahal didalam al-Qur’an telah dijelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi yang terakhir.
2) Munculnya paham yang melarang mengeluarkan Zakat, padahal zakat adalah salah satu rukun Islam Walaupun pada saat itu paham tersebut belum mengatas namakan paham tertentu, tetapi yang jelas merupakan bentuk penyelewengan terhadap ajaran Nabi Muhammad Saw.
b) Periode Umar Bin Khotob
Pada periode kholifah Umar Bin Khotob perpecahan ummat Islam yang mengarah pada munculnya paham-paham tertentu dalam Islam belum terlihat, bahkan Islam mengalami perluasan wilayah yang cukup signifikan.

c) Periode Utsman Bin ‘Afwan
Periode kholifah Utsman Bin Affan, merupakan embrio munculnya paham-paham tertentu dalam tubuh Islam. Hal itu tercermin pada proses terbunuhnya Utsman Bin ‘Afan, yang dibunuh oleh ummat Islam sendiri, karena dianggap telah melindungi Marwan Bin Hakam.

d) Periode Ali Bin Abu Tholib
Periode Kholifah Ali Bin Abu Tholib menurut catatan sejarah adalah periode mulai munculnya paham tertentu dalam Islam hingga paham itu muncul kepermukaan. Sebagai akibat dari dihentikannya Ghozwah (perang) Shiffin antara kelompok Ali bin Abu tholib dengan kelompok Mu’awiyah. Dampak dari dihentikannya Ghozwah Shiffin tersebut ummat Islam terpecah kedalam 3 (tiga) kelompok besar, yaitu :

1) Jumhurul Muslimin, ummat Islam yang menyadari bahwa pemerintahan yang syah setelah Ali Bin Abu Tholib wafat adalah Pemerintah Mu’awiyah.
2) Golongan syi’ah, ummat Islam yang tetap anti Mu’awiyah dan tetap cinta kepada Ali Bin Abu Tholib dan ahli baitnya.
3) Golongan Khawarij, ummat Islam yang anti Utsman bin ‘Afan, Ali Bin Abu Tholib dan Mu’awiyah Bin Abi Sofyan. Golongan ini pada mulanya adalah kelompok Ali Bin Abu Tholib yang merasa kecewa terhadap dihentikannya perang Shiffin yang seharusnya kemenangan berada dipihak Ali Bin Abu Tholib.
Perpecahan ummat Islam kedalam tiga golongan besar tersebut mempunyai pengaruh signifikan terhadap At Tasyri’ Al Islami (Pembentukan Syari’at atau hukum syari’at Islam).
C. Sikap dan Pendirian Aswaja        
Nabi besar Muhammad SAW diutus oleh Allah Swt adalah untuk menyampaikan Risalah Diniyah kepada semua umat manusia, Seluruh ajaran Nabi Muhammad SAW, jika dikerucutkan mengandung tiga pilar yaitu :
1. Pilar tentang Iman, yang mencangkup tentang rukun iman, berfungsi untuk membimbing manusia selaku makhluk yang dapat berpikir dan berkeyakinan (homo rationale)
2. Pilar tentang Islam, yang mencangkup tentang rukun Islam, berfungsi untuk membimbing manusia sebagai makhluk yang mempunyai nafsu (homo animale)
3. Pilar tentang Ihsan, yang mencangkup tentang ajaran akhlak, berbudi bersikap dan bertindak (sering disebut dengan ajaran Tasawuf), berfungi untuk membimbing manusia sebagai manusia yang mempunyai budi pekerti (homo somatica)
Karena itu agama Islam mempunyai tiga ajaran pokok sebagaimana tersebut diatas yaitu Iman (Aqidah), Islam (Fiqih) dan Ihsan (Tasawuf). Tetapi seiring berjalannya waktu telah tercatat oleh sejarah kemelut yang terjadi pada massa perpecahan ummat Islam, dimana muncul berbagai macam paham yang sangat beragam, paham itu sama banyaknya dengan tokoh yang ada pada masa itu. Karenannya perlu adanya spesifikasi terhdap ulama tertentu dalam bidang tertentu, dalam hal ini Aswaja ala IPNU-IPPNU mengikuti ulama sebagai berikut :
a. Dalam bidang Aqidah Islamiyah mengikuti faham yang dirumuskan oleh Imam Abul hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi dari aqidah yang sudah ada sebelumnya.
b. Dalam bidang Fiqih mengikuti salah satu madzhab empat yaitu : Hanafi, Maliki, syafi’I dan Hambali. Keempat madzhab tersebut merupakan saripati dari madzhab-madzhab fiqih yang telah ada sebelumnya.
c. Dalam Bidang Tasawuf mengikuti thariqot dari Imam Abul Qosim Al-Junaid Al-Baghdadi, Imam al ghozali dan orang-orang yang sepaham dengan beliau.

Golongan mereka inilah yang disebut Ahlus sunnah Wal Jama’ah. Jadi lafal Ahlus Sunah Wal Jama’ah itu adalah lafal Urfi yang digunakan oleh keempat golongan tersebut sebagai ‘alam (nama) bagi mereka.
Sikap Ahlus Sunnah Waljama’ah secara kolektif tercermin pada empat pilar, yaitu :
a. Sikap Tawasut dan I’tidal
ü Sikap tengah berintikan keadilan di tengah kehidupan bermasyarakatü Menjadikan kelompok panutan, bertindak lurus, bersifat membangun dan tidak ekstrim.
b. Sikap Tasamuh
ü Toleran di dalam perbedaan pendapat paham keagamaanü Toleran di dalam urusan kemasyarakatan dan kebudayaan
c. Sikap Tawazun
ü Keseimbangan dalam berhidmad kepada Allah Swt, berhidmad kepada sesama dan kepada lingkungan

0 komentar:

Posting Komentar